1000 Tahun Lamanya

Bila kau sanggup untuk melupakan dia
biarkan aku hadir dan menata
ruang hati yang telah tertutup lama

jika kau masih ragu untuk menerima
biarkan hati kecilmu bicara
karena ku yakin kan datang saatnya
kau jadi bagian hidupku
kau jadi bagian hidupku

takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
walau harus menunggu seribu tahun lamanya
biarkanlah terjadi wajar apa adanya
walau harus menunggu seribu tahun lamanya

jika kau masih ragu untuk menerima
biarkan hati kecilmu bicara
karena ku yakin kan datang saatnya
kau jadi bagian hidupku
kau jadi bagian hidupku

takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
walau harus menunggu seribu tahun lamanya
biarkanlah terjadi wajar apa adanya
walau harus menunggu seribu tahun lamanya

selama apapun itu
ku kan setia menunggu

takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
walau harus menunggu seribu tahun lamanya

takkan pernah berhenti untuk selalu percaya
walau harus menunggu seribu tahun lamanya
biarkanlah terjadi wajar apa adanya
walau harus menunggu seribu tahun lamanya

Penyanyi : Jikustik, Tulus

lagi suka sama lagu ini, yah walaupun gak mungkin juga kalau harus nunggu ampe 1000 tahun.
tapi, biarkan saja semua terjadi wajar apa adanya, :)

Ini namanya teman satu bimbingan…

Tak terasa satu semester sudah kita lalui bersama-sama, atau bahkan mungkin lebih. Entah sengaja atau tidak, yang aku tahu kita dipertemukan dalam satu keadaan pada saat itu, yaitu bimbingan. Sebelumnya aku tidak terlalu dekat dengan kalian, mungkin di kelas atau saat bertemu pun kita hanya saling senyum singkat. Yah, walaupun masa bimbingan ini tidak kita lewati bersama-sama secara penuh, namun ada beberapa hal yang bisa aku ketahui tentang kalian, setidaknya yang dulu aku tidak tahu dan sekarang menjadi tahu. *sedikit…. Hehe

Senang rasanya bisa melewati bimbingan laporan akhir (skripsi) yang luar biasa ini bersama kalian, walaupun terkadang aku suka merasa kesal sendiri ketika melihat kalian terlihat santai dalam keadaan yang pada waktu itu seharusnya kalian merasa panik. Yah, tapi lama-kelamaan akupun mulai terbiasa dengan sikap kalian dan bahkan akupun akhirnya agak terbawa sedikit santai. 

Kalian masih ingat kan bagaimana bimbingan kita??,, bohong kalau bilang lupa… haha

Bimbingan yang luar biasa ini sepertinya akan selalu teringat sampai tua nanti, yah setidaknya kita bisa mewujudkan harapan Dospem kita yang berharap kalau kita akan ingat terus bagaimana susahnya menyelesaikan skripsi ini. Hehe yah seperti itulah…

Berawal dari bimbingan SP yang lancar jaya, tetiba pas dipenghujung acara (bimbingan skripsi) rasanya jauh dari kata lancar.. hiks hiks

Tantangan pun dimulai dari persiapan kolokium, yang kita tahu pada saat itu, sepertinya hanya kita saja yang akan melakukan kolokium tanpa dibimbing oleh Dospem kita. Dan pada saat itulah awal kita selalu merasa panik dan takut (eh mungkin itu hanya aku saja deh), iya takut, takut bagaimana dengan nasib kita, dengan nasib kelulusan kita, aku berpikir, kenapa begitu berat tantangan ini (kalau dipikir-pikir sekarang sih emang agak alay berpikir begitu,, hehe)…. Namun walaupun tanpa adanya bimbingan, ternyata kita mampu juga melewati yang namanya kolokium itu, yah walaupun hasilnya tidak terlalu memuaskan, tapi setidaknya nilainya memuaskan dong,, hehe

Ahh sepertinya akan terlalu banyak kalau kita ceritakan pengalaman bimbingan kita satu-satu, bisa jadi akan tercetak satu buku. Yang aku tahu kalian pasti tidak akan lupa dengan masa bimbingan ini.. Hehe
And finally, setelah melewati itu semua, kita akhirnya bisa wisuda bareng, yah walaupun pas sidang, kita tidak bisa bareng-bareng 

Tapi terlepas dari itu semua, setidaknya kita bisa lulus tepat waktu.

Terima kasih untuk kebersamaan kita selama bimbingan ini, biarlah suka duka yang pernah kita lewati menjadi kenangan indah yang suatu saat bisa kita ceritakan kembali kepada orang-orang tersayang kita. Semoga kalian bisa mewujudkan impian-impian kalian, semoga kita bisa dipertemukan kembali pada keadaan yang menyenangkan. Semoga kita selalu sukses dan menjadi orang yang bermanfaat dimana pun kita berada…

Dan kita juga harus berterima kasih kepada Dospem kita yang senantiasa membuat kita deg-deg-an di luar tapi pas bersama beliau rasa deg-deg-an itu jadi hilang seketika. Pokoknya terima kasih untuk kenangan yang selalu beliau torehkan dalam memori kehidupan kita, yang mungkin akan sulit untuk dilupakan..
Sekarang……
Aku bahagia, kalian juga bahagia kan?,, hehe

Catatan: yang pasti, ketika aku menonton adu kecantikan domba, yang cantik itu ‘aku’.. haha

Untuk Bapak Said Rusli ^_^

Disaat usia sudah tidak muda lagi

Disaat tenaga tak seperti dulu lagi

Namun kekuatan hati takan pernah berubah.

 

Semangat mengajar yang masih membara

Mampu menghilangkan semua rasa lemah

Hanya untuk menebar ilmu untuk para mahasiswa.

 

Tutur kata yang santun

senyum yang membuat aku semangat

perwatakan yang ramah

membuatku takan lupa pada beliau.

 

Sesaat aku merasa sedih

namun semangat beliau sudah membuka mata hatiku

seakan aku selalu mendengar kata-kata yang berbisik di telingaku

“Semangat kawan, semangat dan jiwamu masih muda”

Ia benar, aku masih muda

Aku harus semangat

Seperti semangatnya beliau untuk mengajar

Tak lekang oleh waktu.

 

Bapak, terimakasih sudah mengajarkan aku arti semangat yang sesungguhnya,

Bapak, semangat dan kelembutan hatimu akan selalu aku kenang,

Senyum, keramahan, serta kegigihanmu akan aku jadikan penyemangat dalam hidupku.

puy_vha.

2012 ^_^

 

Makalah Akhir Berfikir dan Menulis Ilmiah

BUDAYA DAN KOMUNIKASI : Pengaruh Bahasa Lokal Terhadap Keefektifan Berkomunikasi di Kalangan Akademisi

Oleh

Eva Masrivah Febriani

I34100056

Dosen

Ekawati Sri Wahyuni

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBAGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011


                                                                                                                   i PRAKATA

 

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya seingga penulis dapat menyelesaikan  laporan makalah akhir berjudul “BUDAYA DAN KOMUNIKASI: Pengaruh Bahasa Lokal Terhadap Keefektifan Berkomunikasi di Kalangan Akademisi” ini dengan baik. Laporan makalah akhir ini merupakan pelengkap dari tugas mata kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200) pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Terima kasih saya sampaikan kepada dosen Berfikir dan Menulis Ilmiah ibu Ekawati Sri Wahyuni selaku dosen yang mengajari penulis. Serta tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada asisten praktikum Berfikir dan Menulis Ilmiah kak Novia Fridayanti yang dengan sabar menuntun penulis dalam pembuatan makalah akhir ini. Tanpa bantuan dan kerjasamanya,  mungkin makalah akhir ini tidak dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Semoga makalah akhir ini bermanfaat bagi semua pihak.

 

Bogor, 15 Desember 2011

 

Eva Masrivah Febriani

                                                                                     NRP. I34100056

 

                                                                                                                                                ii

 

ABSTRAK

Eva Masrivah Febriani. BUDAYA DAN KOMUNIKASI : Pengaruh Bahasa Lokal Terhadap Keefektifan Berkomunikasi di Kalangan Akademisi.

 

Komunikasi merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa lepas dari kehidupan makhluk hidup. Kegiatan komunikasi berlangsung begitu saja karena adanya hukum alam, dengan komunikasi semua pesan dapat disampaikan dan diterima. Bahasa merupakan salah satu bagian yang tidak lepas dari komunikasi,  karena hampir sebagian besar pesan disampaikan melalui bahasa. Masalahnya komunikasi itu tidak hanya terjadi antara budaya yang sama, namun komunikasi juga dapat terjadi antara dua atau lebih kebudayaan. Maka dengan menggunakan metode sekunder, akan mengidentidikasi keefektifan komunikasi yang terjadi antara budaya yang berbeda. Keefektifan berkomunikasi terjadi ketika antara pemberi pesan dengan penerima pesan mendapatkan makna pesan yang sama. Untuk mengurangi kesalahan pemaknaan pesan dalam komunikasi yang berbeda budaya, maka diperlukan sikap saling mengerti, menghormati, dan berusaha untuk memahami perbedaan budaya satu sama lain.

 

Kata kunci: komunikasi, budaya, bahasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                               iii

DAFTAR ISI

 

                                                                                                                                    Halaman

PRAKATA                                                                                                                    i

ABSTRAK                                                                                                                   ii

DAFTAR ISI                                                                                                               iii

PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………  1

PEMBAHASAN

Bahasa, komunikasi dan faktor yang mempengaruhi………………………………………      2

Pengaruh bahasa lokal di kalangan akademisi . ……………………………………………….    3

PENUTUP…………………………………………………………………………………………………..    5

DAFTAR PUSTAKA  ………………………………………………………………………………….   6

LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………………….    7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                1

Pendahuluan

 

 

Indonesia terkenal kaya akan berbagai budayanya, mulai dari sabang sampai merauke. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya suku dan beragamnya kebiasaan-kebiasaan dari masing-masing wilayah atau daerah, begitupun dengan bahasa yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan akademisi, khususnya lingkungan institusi atau universitas  merupakan lingkungan yang plural, karena didalamnya sudah dipengaruhi oleh berbagai budaya yang di bawa para mahasiswa daerah. Tidak menutup kemungkinan pada saat berkomunikasi dengan lawan bicara yang berbeda suku, para mahasiswa masih menggunakan bahasa lokal masing-masing. Hal itu dikarenakan kurangnya kosakata bahasa Indonesia yang mereka ketahui, sehingga akan mempengaruhi keefektifan berkomunikasi. Sehingga peranan bahasa begitu penting dalam berkomunikasi, karena pada saat berkomunikasi harus menggunakan bahasa yang baik dan benar agar pesan yang disampaikan dapat dimengerti.

Data yang dikumpulkan dalam tulisan ini adalah data sekunder yang diperoleh dari berbagai literatur yang terkait dengan permasalahan dalam tulisan ini, dan juga diperoleh melalui internet.

Thesis utama dari tulisan ini pun adalah kebiasaan menggunakan bahasa lokal saat berkomunikasi dengan lawan bicara yang berbeda budaya, yang secara tidak sadar akan mempengaruhi keefektifan berkomunikasi.

Berdasarkan latar belakang di atas, serta merujuk pada pengertian bahasa dalam komunikasi antarbudaya  maka dirumuskan permasalahan dalam tulisan ini sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi keefektifan berkomunikasi di kalangan akademisi?
  2. Bagaimana faktor budaya  mempengaruhi keefektifan berkomunikasi ?

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka didapatkan tujuan sebagai berikut:

  1. Menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan berkomunikasi, khususnya di kalangan akademisi.
  2. Menganalisis bagaimana faktor budaya mempengaruhi keefektifan berkomunikasi.

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                2

Budaya Dan Komunikasi: Pengaruh Bahasa Lokal Terhadap Keefektifan Berkomunikasi di Kalangan Akademisi

 

Bahasa, Komunikasi Dan Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi

Komunikasi merupakan sebuah aktivitas yang tidak lepas dari kehidupan sehari-hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan pada saat tidur pun dapat melakukan komunikasi. Pengertian komunikasi itu sendiri menurut Mulyana dan Rakhmat (1990) adalah suatu proses dinamik transaksional yang mempengaruhi perilaku sumber dan penerimanya dengan sengaja menyandi (to code) perilaku mereka untuk menghasilkan pesan yang mereka salurkan lewat suatu saluran (channel) guna merangsang atau memperoleh sikap atau perilaku tertentu. Menurut definisi komunikasi yang dinyatakan oleh Mulyana dan Rakhmat, definisi tersebut dapat mengidentifikasi unsur-unsur komunikasi. Unsur-unsur komunikasi tersebut yaitu sumber (source), penyandian (encoding), pesan (message), saluran (channel), penerima (receiver), penyandian balik (decoding), respons penerima (receiver response), serta umpan balik (feedback).

Sebagian besar orang masih beranggapan bahwa komunikasi itu adalah berbicara, sehinngga apabila terjadi akitivas berbicara maka itulah yang disebut komunikasi. Namun, apabila tidak terjadi pembicaraan maka hal tersebut tidak termasuk berkomunikasi. Padahal dalam komunikasi ada yang disebut komunikasi verbal dan komunikasi non-verbal. Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan simbol-simbol selain bahasa, seperti tersenyum, gerakan tangan, penampilan. Sedangkan “Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal. Simbol verbal bahasa merupakan pencapaian manusia yang paling impresif” (Kusumastuti 2010).

Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai, dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat untuk berfikir. Maka, bahasa berfungsi sebagai suatu mekanisme untuk berkomunikasi dan sekaligus sebagai pedoman untuk melihat realitas sosial. Bahasa mempengaruhi persepsi, menyalurkan, dan turut membentuk pikiran (Mulyana dan Rakhmat 1990).

Bahasa itu sendiri erat kaitannya dengan budaya, karena bahasa yang digunakan setiap orang pasti berbeda-beda mengikuti lingkungan budayanya masing-masing, atau biasa disebut dengan bahasa lokal. Menurut Mulyana dan Rakhmat (1990) budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Apabila bahasa lokal tersebut digunakan dalam lingkungan yang budayanya sama, maka tidak akan mengganggu keefektifan berkomunikasi. Namun, apabila bahasa lokal tersebut digunakan dalam lingkungan yang didalamnya terdapat bermacam-macam budaya, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi kesalahan persepsi atau kesalahan pemaknaan pesan oleh penerima. Khotimah (2000) menyatakan bahwa sejarah  telah  membuktikan, dari masa ke masa, kesalahpahaman memahami pesan, perilaku, atau peristiwa komunikasi, telah menyebabkan suasana yang tidak diharapkan, mulai dari penilaian yang merendahkan terhadap orang lain, cemoohan, cercaan, isolasi, sampai kepada tindakan-tindakan kekerasan.

 

                                                                                                                                          3

 

Komunikasi yang efektif adalah pada saat terjadinya komunikasi, sumber dan penerima harus bersifat netral. Artinya kedua belah pihak yang sedang berkomunikasi tidak boleh memaknai pesan berdasarkan persepsi meunurut kebudayaannya masing-masing, namun harus berusaha saling memahami dan mengerti kebudayaan kedua belah pihak tersebut.

Keefektifan berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah faktor pengetahuan. Faktor pengetahuan yaitu menyangkut kesadaran tentang apa yang dibutuhkan untuk berkomunikasi secara tepat dan efektif. Faktor pengetahuan tersebut dapat ditinjau dari harapan, pembagian jaringan, pengetahuan lebih dari sudut pandang, pengetahuan dari beberapa alternatif interpretasi, dan pengetahuan mengenai persamaan dan perbedaan. Selain faktor pengetahuan, adapun faktor keterampilan. Faktor keterampilan yaitu sarana yang dibutuhkan untuk berkomunikasi secara efektif dan tepat dengan pihak asing dan berkaitan langsung untuk mengurangi kecemasan dan ketidaktentuan partisipan dalam proses komunikasi antarbudaya. Faktor keterampilan dapat ditinjau dari kemampuan berempati, kemampuan untuk mentoleransi ambiguitas, kemampuan untuk mengadaptasi komunikasi, kemampuan untuk mengkreasikan kategori-kategori baru, kemampuan untuk mengakomodasikan tingkah laku, serta kemampuan untuk mengumpulkan informasi yang tepat (Nita 2007).

 

Pengaruh Bahasa Lokal Di Kalangan Akademisi

Lingkungan akademisi, khususnya universitas merupakan salah satu contoh lingkungan yang besar kemungkinan didalamnya terdapat bermacam-macam kebudayaan yang tentunya dibawa oleh mahasiswa-mahasiswa daerah. Pada saat para mahasiswa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa nasional, mungkin komunikasi yang berlangsung akan efektif. Namun apabila berkomunikasi dengan menggunakan bahasa mereka masing-masing sesuai kebudayaannya, maka tidak menutup kemungkinan keefektifan berkomunikasi akan terpengaruh. Dalam hal ini jelas menunjukkan bahwa budaya memiliki hubungan yang penting dengan komunikasi, karena komunikasi secara alamiah dipengaruhi oleh budaya. Menurut Rinawati (2002) setiap peristiwa komunikasi sebenarnya memiliki potensi sebagai komunikasi antarbudaya karena para peserta yang terlibat di dalamnya memiliki perbedaan kultur sekecil apapun.

Salah satu model komunikasi yang dapat dilihat dan digunakan dalam segala keseharian yaitu dalam kegiatan dan lembaga pendidikan (kampus),seringkali mahasiswa meremehkan model komunikasi yang ada di perguruan tinggi, mereka sering menganggap diri mereka sudah dewasa dan mampu untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, baik dalam masalah perkuliahan maupun menjalin satu ikatan dengan sesama. Mereka sering sekali menganggap bahwa segala sesuatu dilakukan sendiri tanpa harus berinteraksi dengan orang lain, sikap egois mereka akan muncul secara langsung saat seseorang mulai masuk dalam tingkat yang lebih tinggi.

Budaya merupakan identitas diri seseorang, sehingga budaya tidak dapat begitu saja digantikan dengan budaya baru. Cara yang tepat untuk mencapai tujuan komunikasi yang efektif dalam perbedaan budaya adalah dengan mempelajari budaya lain tersebut, sehingga dari budaya tersebut dapat dipahami maknanya. Dari budaya tersebut hanya dipahami sebagian istilah yang dapat mencakup keseluruhan makna. Menurut Nita (2007), budaya dan komunikasi pada akhirnya tidak dapat dipisahkan oleh karena

 

                                                                                                                                         4

 

budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan.

Kekurangmampuan dalam berbahasa pun akan mengakibatkan kerusakan hubungan dengan orang lain, karena sulit untuk berkomunikasi dengan orang tersebut. Walaupun bahasa dapat dipeljari, namun “perbendaharaan kata, tata bahasa, dan fasilitas verbal tidaklah memadai. Kecuali bila orang memahami isyarat-isyarat halus yang implisit dalam bahasa, nada suara, gerak-gerik dan ekspresi…” (Mulyana dan Rakhmat 1990).

Pengaruh bahasa dalam komunikasi sangat erat, kesalahan menggunakan bahasa saat berkomunikasi akan mempengaruhi makna, baik pengaruhnya tersebut hanya sedikit, atau bahkan pengaruhnya banyak.

 

                                                                                                                                                5

PENUTUP

 

Komunikasi merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia, karena dengan komunikasi semua pesan dapat disampaikan, baik itu melalui komunikasi verbal maupun non-verbal. Pemaknaan pesan dalam komunikasi untuk masing-masing orang terkadang berbeda-beda, hal itu dapat terjadi karena adanya pengaruh dari faktor lingkungan atau kebiasaan orang tersebut dalam berkomunikasi. Kebiasaan itu sendiri tidak lepas dari faktor budaya, karena apabila terjadi komunikasi antara dua orang yang berbeda kebudayaan, maka peluang terjadinya kesalahan pemaknaan pesan pun akan cukup besar. Sehingga dalam komunikasi, kedua belah pihak tidak boleh memaknai pesan berdasarkan persepsi menurut kebudayaannya masing-masing, namun harus berusaha saling memahami atau bersifat netral. Cara tersebut dilakukan untuk mewujudkan terjadinya komunikasi yang efektif. Dalam kasus ini menjelaskan juga bahwa komunikasi dan kebudayaan mempunyai ikatan yang sangat erat dan saling berhubungan satu sama lain.

Sebaiknya proses komunikasi itu disesuaikan dengan kebudayaan dan lingkungan yang sedang ditempati, dengan tidak membawa bahasa yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan asal tempat tinggalnya. Tidak hanya dalam berperilaku dan dalam beragama, dalam komunikasi pun harus diterapkan sikap toleransi, artinya harus saling menghormati dalam komunikasi antarbudaya, dengan mau belajar mengetahui budaya komunikasi orang yang menjadi lawan bicara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                6

DAFTAR PUSTAKA

 

Khotimah E. 2000. Memahami komunikasi antarbudaya. Mediator  (Jurnal Komunikasi). 01(01):23-30.

 

Kusumastuti YI. 2010. Dasar-dasar komunikasi. Bogor[ID]: Sains KPM IPB Press. 392 hal.

 

Mulyana D, Rakhmat J, editor. 1990. Komunikasi antarbudaya. Bandung[ID]: Remaja Rosdakarya. 262 hal.

 

Nita OJ. 2007. Keefektifan komunikasi lintas budaya dalam interaksi antara masyarakat etnis sunda dengan etnis jawa di desa Wanaherang kecamatan Gunung Putri.[studi pustaka]. Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB. 105 hal.

 

Rinawati R. 2002. Komunikasi antarbudaya dalam momentum pelaksanaan ibadah haji. Mediator ( Jurnal Komunikasi ). 03(02): 12-21.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

LAMPIRAN

Contoh Komunikasi Antarbudaya

Ini adalah pengalaman pribadi teman saya yang berkaitan dengan komunikasi antar budaya, ketika dia baru pindah ke Bogor, dia masih banyak membawa adat–adat Jawa, sebab dia adalah orang Jawa Tulen, contohnya seperti bahasa Jawa yang dia gunakan masih sangat kental. Ketika dia bertemu dengan teman  yang sesama suku Jawa dan teman dari suku Sunda, otomatis dia menggunakan bahasa jawa dengannya tanpa memperdulikan teman dia yang berasal dari suku Sunda. Dia banyak bercerita dengan temannya yang berasal dari Jawa dengan asyiknya. Ketika teman dia yang berasal dari Sunda ingin pergi mencari makan di luar, tidak sengaja dia pun bertanya kepadanya dengan bahasa Jawa “arep neng ndi?” yang artinya mau kemana? Tapi dia malah tertawa terbahak–bahak dengan kata–kata yang telah di ucapkan tadi. Otomatis dia bertanya–tanya kepadanya. Ada apa tertawa? Ada yang lucu? Dia pun menjawab, aku bukan “ Neng ” yang artinya panggilan untuk wanita dalam bahasa Sunda, tapi aku “ Jang “ yang artinya panggilan untuk anak laki–laki dalam bahasa Sunda. Temannya yang orang sunda pun tertawa tak berhenti–henti. Dia pun tersipu malu kepada temannya. Itulah sedikit pengalaman teman saya tentang Komunikasi Antar Budaya yang telah dia alami ketika baru di Kota Bogor. Sangat mengesankan ujarnya.

 

teman

“Hari-hari ku bersama teman-teman ku”

Aku tak pernah menyangka akan bertemu kalian, awal pertama aku mengenal kalian, aku berpikir apakah kalian adalah teman-teman yang baik untukku?, ataukah hanya teman yang karena keadaan kalian menjadikan aku teman. Banyak prasangka buruk yang mengganggu pikiran ku, membuatku bingung dengan ketulusan kalian. Tapi satu hal yang kutunggu, aku menunggu waktu dimana proses pertemanan ini menuju titik yang membukakan mata hatiku, bahwa kalian itu tulus berteman denganku.

Pada akhirnya aku tersadar disaat aku kesepian, aku merasa tak berteman. Tetapi kalian datang dan menghibur ku, seakan kalian tahu bahwa aku sedang butuh kalian. Disaat aku butuh seseorang untuk membantuku, kalian selalu siap dengan jawaban-jawaban yang membuat hatiku tenang. Saat itu aku yakin, kalian tulus. Walaupun kalian tidak selalu baik untuk ku, tapi kebaikkan kalian itu bermakna untuk ku.

Terima kasih teman. Kalian sudah mau berteman dengan ku. Aku tak kan pernah melupakan kalian, karena aku tahu suatu saat nanti kita akan bertemu lagi disuatu tempat yang lebih indah. Di tempat yang lebih membukakan hati kecil ku kalau kalian itu adalah teman terbaikku.

Terima kasih teman. Karena kalian aku tahu, bahwa aku bukanlah siapa-siapa jika tanpa kalian. Kalian sudah mengingatkan aku, bahwa kita semua saudara.

By  puyz_vha

 

 

 



lala

pengalaman itu lebih kuat dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang biasa kita pelajari,,,

terkadang seseorang ngerasa kalo dirinya lebih tahu, setelah dia merasa didrinya menguasai ilmu pengetahuan,, padahal tanpa ia sadari kalo pengalaman juga merupakan faktor penting…

pko selasa sore (perilkon) pengolahan informasi

Pengolahan Informasi

Proses pengolahan informasi

5 tahap proses pengolahan informasi

-          Pemaparan <-> stimulus

-          Perhatian

-          Pemahaman

-          Penerimaan

-          refrensi

Sensasi dipengaruhi oleh :

  1. Ambang Absolut (the absolut threshold )
  2. Perbedaan Ambang (differential thershold )

Formulasi model Weber

∆ I =I K

∆ I = JND

Ket :

I = Intensitas stimulus awal sebelum ada perubahan.

K = Konstanta yang menggambarkan proporsi jumlah perubahan dalam stimulus yang diperlukan agar bisa dirasakan. Nilai K akan berbeda – beda antar panca indra.

Perhatikan  !!

-          Faktor pribadi => karakteristik konsumen yang muncul dari dalam diri konsumen

-          Faktor stimulus => dapat dikontrol dan dimanipulasi oleh pemasar dan pengkaji untuk menarik perhatian konsumen.

Faktor Stimulus

  1. Ukuran  ( size )
  2. Warna ( colour )
  3. Intensitas ( intensity )
  4. Kontras ( contrast )
  5. Posisi ( position )
  6. Petunjuk (directionaly )
  7. Gerakan ( movement)
  8. Kebaruan ( nouvelty )
  9. Isolasi ( isolation )

10.  Stimulus yang disengaja ( “ learnd “ attention – inducing stimuly )

11.  Pemberi pesan yang menarik  (Attractive spokeperson)

12.  Perubahan gambar yang cepat (siene changes )

Pemahaman

Tiga prinsif dalam perceptual organization

-          Figure and ground ( gambar dan latar belakang )

-          Grouping ( pengelompokan)

-          Closure => melengkapi/ mengisi bagian yang hilang

Penerimaan

Persepsi konsumen terhadap objek atau citra produk.

Retensi        proses memindahkan stimulus kedalam memory

Memory : sensorik, jangka pendek, jangka panjang

Pertanyaan

  1. Apa manfaat dari mempelajari materi proses pengolahan informasi ?
  2. Mengapa tahap pengolahan informasi ada 5 tahapan ?
  3. Bagaimana apabila salah satu dari tahapan tersebut tidak lengkap ? jawaban: 1. untuk memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada  mahasiswa

2. karena biar lebih lengkap dan sempurna

3. akan kurang sempurna,

PKO SELASA SORE(PERILKON)

Kepribadian (Personality)

Pendahuluan

Tidak ada manusia yang mempunyai kepribadian yang sama, kepribadian itu gabungan dari beberapa karakter. Kepribadian itu akan terkait dengan perilaku.

Definisi kepribadian

Pada intinya kepribadian itu karakter terdalam yang dimiliki seseorang. Kepribadian merupakan respon konsisten. “ Makhluk halus (setan) itu hanya bisa melihat, tapi mendengar”.

  • Kepribadian bisa membedakan karakter individu
  • Kepribadian biasanya konsisten dan berlangsung lama
  • Kepribadian dapat berubah

Teori kepribadian Freud : kepribadian itu datang dari diri manusia, ego menyeimbangkan id dan superego (patuh).

Contoh penerapan teori Freud

Ketertarikan antara lawan jenis (id)

  • Menggunakan model selebriti

Iklan layanan masyarakat : (ego dan superego)

  • Reaksi/penolakan atas eksploitasi berdasar ketertarikan antar lawan jenis diatas

Teori kepribadian Neo-Freud kebalikan dari Freud, disebut juga teori sosial psikologi .

Teori ciri (Traik Theory)

  • Mempergunakan pendekatan kuantitatif dalam mengukur kepribadian konsumen
  • Mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik/sifat/cirinya yang paling menonjol.

Ciri kepribadian dari Cattel

  1. Pendiam  vs   Ramah
  2. Bodoh     vs   Cerdas
  3. Labil        vs   Stabil
  4. Penurut    vs   Agresif
  5. Seurius     vs   Santai
  6. Expedient vs  Conscientius

Psikografis dalam perilaku konsumen

Segmentasi pasar berdasarkan : Geografi, Demografi (berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan), Psikografi (gaya hidup, kepribadian, values), Behavioral.

Kepribadian dan perilaku konsumen

Gaya Hidup (Lifestyle)

Pola dimana orang hidup dan menggunakan uang dan waktunya. Pola konsumsi yang menggambarkan pilihan seseorang bagaimana ia menggunakan waktu dan uang. Gaya hidup mempengaruhi pola konsumsi konsep psikografik ILL behavior of consumer drug, drinking, smoking, gabling, hubungan seksual diluar nikah. Contoh gaya hidup (AIO) Aktivitas, Minat, Opini.

 



benar atau tidak

ada temen yng bilang ma vha,, katanya,”benar ga kalo habis berdoa, trus mengusapkan tangan ke muka itu termasuk bid’ah?,, soalnya Nabi ga ng’lakuin itu,,,

vha juga bingung harus jwab pha??

ada yang bisa tlong bantu jawab??

 

komunikasi

komunikasi seperti darah yang mengalir,,

seperti lem yang melekatkan,,

itulah kata2 mata kuliah komunikasi yang berkesan…